«

»

Aug 15

Nasionalisme Melalui Prestasi

Liputan Khusus 64 Tahun RI

Sabtu, 15 Agustus 2009 | 13:54 WIB
Oleh Dwi Bayu Radius

Sebuah mobil Jepang produksi tahun 2008 melaju memasuki pelataran parkir di sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Bandung. Pintu mobil dibuka dan beberapa mahasiswa yang berpenampilan modis keluar lalu menuju ke kampus. Di sana mereka bukannya memasuki ruang kuliah, melainkan menuju kantin.

Di kantin, para mahasiswa itu tampak bercanda dengan rekan-rekan mereka lainnya. Setelah itu, mereka menuju warung internet (warnet) untuk bermain komputer.

Aktivitas sejumlah mahasiswa itu sering dilakukan setiap hari. Bahkan, kegiatan di warnet berlangsung hingga larut malam, bahkan dini hari.

Jerry Koswara (25), mahasiswa Jurusan Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Maranatha, mengakui, tak sedikit mahasiswa di kampusnya bergaya hidup konsumtif dan tidak memiliki orientasi kuliah yang jelas.

Mereka mengenakan pakaian bermerek, mengendarai mobil mewah, dan tampil perlente. Tak peduli nilai ujian rendah, yang penting lulus. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa yang menggunakan narkoba, hobi dugem, dan menenggak minuman keras.

Kondisi ini sangat kontras dengan generasi muda dulu. “Anak muda masa perjuangan berperang dengan bambu runcing untuk merebut kemerdekaan. Mahasiswa sekarang seharusnya memikirkan sumbangsih untuk negara,” kata Jerry. Generasi muda saat ini dituntut memberikan kualitas pribadi. Salah satunya dengan menjalani pendidikan penuh disiplin dan sebaik mungkin. “Sangat berbahaya kalau masih banyak anak muda yang hidupnya hanya ingin berhura-hura,” ujar Jerry yang mengakui, banyak mahasiswa berprestasi.

Pemilik The Big Price Cut Group Perry Tristianto mengatakan pernah bekerja sama dengan sejumlah mahasiswa sebuah universitas di Bandung. Kerja sama yang dimulai pada akhir tahun 2007 itu berupa penjualan sentra produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah.

“Sayangnya, usaha itu kini mandek. Padahal, saya sudah mengeluarkan modal besar,” kata Perry tanpa menyebutkan angkanya. Penyebabnya, mahasiswa yang dilibatkan dianggap kurang maksimal dalam mengelola usaha dan memasarkan produk.

Terus berkarya

Meski demikian, tidak semua kerja sama dengan mahasiswa berhenti. Usaha yang berjalan baik misalnya dengan mahasiswa Universitas Padjadjaran dan Institut Teknologi Bandung. Bila memulai usaha kecil, mahasiswa mapan umumnya enggan dan tidak berani.

“Berbeda dengan mahasiswa di Universitas Padjadjaran, misalnya, mereka mau. Mungkin karena tidak berasal dari keluarga berada, upaya mereka justru gigih,” katanya.

Wakil Gubernur Dede Yusuf mengatakan, semangat generasi muda mengisi kemerdekaan cukup besar. Jika diberi kesempatan, dia yakin generasi muda mampu mengukir prestasi. Masalahnya, terdapat ketidakpercayaan generasi muda dan tua.

“Ada gap, padahal generasi muda mampu. Saya diberi oleh masyarakat Jabar kesempatan sebagai wakil gubernur dan akan memanfaatkannya dengan maksimal,” ujarnya. Menurut Dede, semangat mengisi kemerdekaan jangan diaplikasikan hanya dalam bentuk seremoni atau hura-hura.

Namun, banyak juga generasi muda yang memanfaatkan hari-hari kemerdekaan dengan prestasi. Generasi muda saat ini makin banyak yang menjuarai kompetisi nasional, bahkan tingkat dunia, seperti dalam bidang robot, olimpiade sains, dan desain.

Kontingen Jawa Barat, misalnya, baru-baru ini mampu meraih juara umum sekaligus tim favorit Jambore Usaha Kesehatan Sekolah Tingkat Nasional II Tahun 2009. Kegiatan itu berlangsung pada 4-7 Agustus 2009 di Desa Wisata Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Tim Jabar berhasil menyabet 2 gelar juara pertama, 1 gelar juara kedua, dan 2 gelar juara harapan. Dalam jambore itu, dilombakan lima kategori, yaitu dokter kecil, kader kesehatan remaja, cerdas cermat, paduan suara, dan karya tulis kesehatan.

Director Next System Christianto Tjahyadi mengatakan, semakin banyak generasi muda Indonesia, termasuk dari Bandung, yang memenangi kompetisi robot nasional, bahkan internasional. Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Pertama Kristen (SMPK) Trimulia, misalnya, berhasil merebut gelar juara pada Indonesia Information Communication and Technology Award 2009.

Lomba itu digelar di Jakarta Convention Center pada akhir Juli lalu. Padahal, persiapan tim SMPK Trimulia hanya sekitar 1,5 bulan. Luar biasa! Prestasi mampu mengangkat kepercayaan diri anak-anak muda itu. Mereka pun tersadarkan bahwa dirinya memiliki potensi besar.

Sumber: Kompas Cetak