«

»

Jul 02

Ciptakan Green Bird Robot Pendeteksi Gas

Tidak ada yang spesial dari robot yang dinamakan Green Bird ini. Tingginya tidak lebih dari 20 cm dan bentuknya sangat sederhana. Namun kemampuannya patut diacungi jempol.

Robot yang diciptakan oleh sekelompok remaja terdiri atas Michelle Emmanuella, 15; Jocelyn Olivia, 13; Fairuuz, 13; dan David, 20; ini mampu mendeteksi berbagai macam gas. “Robot ini bisa mendeteksi banyak gas seperti asap, CO, gas elpiji, gas metana, dan gas-gas berbahaya untuk kesehatan,” ungkap Michelle saat ditemui wartawan di NEXT SYSTEM Robotic Learning and Experience Center, Jalan Baranang Siang, Kota Bandung, belum lama ini.

Michelle mengatakan, ide membuat robot pendeteksi gas ini berawal dari keprihatinan atas tingginya polusi udara yang terjadi saat ini.Untuk membantu menjaga lingkungan, robot ini dibuat dan telah diujicobakan. Cara kerjanya sangat sederhana, robot mampu dioperasikan dalam dua cara, yaitu manual dan otomatis. Rangka robot pun dari bahan yang mudah ditemukan, badannya terbuat dari toples bening dan kepalanya terbuat dari mangkok.

Walaupun seperti itu, namun kecerdasannya tidak perlu diragukan lagi. Untuk mengoperasikannya tinggal pencet tombol power yang ada di bagian belakang tubuhnya setelah itu robot akan berjalan. Karena menggunakan roda,sehingga robot bisa berjalan fleksibel dan bisa berputar posisi. Pada bagian atas tubuhnya ditanamkan sensor gas yang bisa mendeteksi beraneka macam gas.

Sedangkan bagian bawah ditanam sensor cahaya yang berguna saat operasi otomatis. Jika sensor gasnya mendeteksi adanya gas atau polusi dalam kadar tertentu, maka robot akan mengeluarkan bunyi. “Nantinya dia bisa patroli di kompleks,sehingga bisa mencegah kebakaran akibat kebocoran gas elpiji atau mendeteksi kadar polusi di suatu tempat,” kata Michelle yang juga siswi kelas 1 SMA itu sambil memamerkan robot ciptaannya.

Robot Green Bird juga pernah diuji coba di beberapa ruas Jalan di Kota Bandung, salah satunya Jalan Pasteur. Dalam kondisi ramai kendaraan robot yang tengah berada di jalan tersebut langsung berbunyi karena mendeteksi adanya polusi udara. Robot yang dibuat dalam waktu satu bulan ini menghabiskan dana sekitar Rp 500.000.

Robot ini masih dalam tahap awal, untuk ke depannya akan ditambah kecerdasannya. Tidak hanya bisa mendeteksi, namun bisa mengukur kadar gas yang ditemukannya. Selain itu juga robot bisa merekam data, sehingga bisa dikirim ke komputer dengan detail waktu dan lokasi temuan. “Nantinya bisa untuk mengukur jenis gas tertentu, misalnya untuk deteksi polusi udara di ruas jalan tertentu,” tandas Michelle.

MASITA ULFAH
Kota Bandung