«

»

Aug 22

Asyiknya Mengutak-Atik Robot

Dessy Rosalina
KONTAN – Sabtu, 22 Agustus 2009

MAIN robot? Ih, itu hobi anak kecil, barangkali demikian jawaban kebanyakan orang. Namun jangan keliru. Hobi bermain robot di sini tidak sama dengan memainkan robot seperti yang dipajang di toko mainan anak-anak.

Butuh pemahaman komplit mengenai elektronika untuk bisa mengutak-atik robot. Penggemar robot di sini juga bukan anakanak, tapi orang dewasa. Cara bermainnya bukan dengan menyalakan tombol on, kemudian bertepuk tangan melihat robot bergerak.

“Tetapi membuat robot untuk bergerak dan hidup sesuai keinginan kita,” kata Agus Mulyana, hobiis robot.

Agus sendiri mengenal dunia robotik sejak empat tahun silam. Agus yang saat itu masih duduk di semester tujuh bangku kuliah, mendapat tugas membuat robot.

Dari tugas itu, ia jatuh cinta pada makhluk elektronik itu. “Karena robot itu perpaduan aspek mekanik, elektronik, dan komputasi,” tutur Agus.

Setelah pertemuan pertamanya dengan robot, Agus mengaku keranjingan terus bermain dengan teman barunya. Bayangkan saja, dalam sehari Agus bisa menghabiskan waktu sekitar 12 jam untuk sekedar mengotak-atik robotnya.

Makanya jangan heran apabila perlengkapan ‘perang’ semisal solder, obeng, tang, multimeter, atau tool kit lainnya selalu berada tak jauh dari Agus.

Apa sih enaknya main robot? Lelaki 27 tahun ini mengaku mendapat kepuasan ketika si robot berhasil mengerjakan apa yang dia suruh, sesuai program yang ditanamkannya.

Dari Hobi Jadi Prestasi

Lain lagi dengan Christianto Tjahyadi. Pria ini berkenalan dengan hobi robotik sejak 2004. “Waktu itu saya tidak sengaja menemukan situs mikrokontroler yang merupakan pengendali atau otak pada robot,” kenang Christianto.

Lulusan teknik elektro ini lantas tertarik mencari tahu lebih dalam mengenai otak robot. Pada 2006, Christianto menjajal pembangunan robot berbentuk mobil. Begitu berhasil, ia pun semakin keranjingan.

Seperti Agus, Christianto juga bisa hanyut hingga 5 jam saat mengutak-atik robot. “Bisa karena asyik corat-coret di atas kertas atau bikin program di komputer,” ujar Christianto.

Di Indonesia, memang baru segelintir orang yang tertarik dengan hobi robotik. “Karena hobi ini masih dianggap mahal. Kebanyakan orang yang hobi ini nantinya terjun ke riset pendidikan,” ungkap Agus.

Lantaran komponen robotik yang mahal, keduanya memang mengungkap sejauh ini para pehobi robotik melanjutkan hobi mereka lewat pekerjaan.

Misalnya saja Christianto yang kini menjadi Managing Director Next System Robotics, sebuah pelatihan robotik. Adapun Agus kini melakoni profesi sebagai dosen tetap Teknik Komputer, Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Bandung.

Dari hobi, mereka berhasil mengukir prestasi. Agus misalnya, pernah menjadi juara 1 Kontes Robot Cerdas Pemadam Api pada 2007, juara 1 Kontes Robot Cerdas Indonesia 2008 dan 2009. “Gara-gara hobi jadi senang juga karena setelah menang bisa ketemu presiden,” tuturnya.

Christianto juga tak mau kalah, ia dan tim binaan Next System Robotics menyabet segudang penghargaan robotik semisal medali perak South East Asia Robotics Olympiad, Solo pada 2009.

Ada satu keinginan mereka, yaitu membentuk komunitas sebagai sarana diskusi dan silahturahmi.

Untuk menyiasati hobi robotik mahal, Christianto mengaku kerap menggunakan komponen bekas. “Saya biasanya mengambil dari komponen mainan anak-anak semisal motor dan roda yang nanti ditambah mikrokontroler,” ujar Christianto.