«

»

Jun 29

South East Asia Robotics Olympiad 2009

South East Robotics Olympiad 2009 yang berlangsung di kota Solo, 25-28 Juni 2009, adalah gelaran robotik tingkat internasional pertama yang diselenggarakan di Indonesia, yang merupakan kerja bareng beberapa komite robotik dari beberapa negara di kawasan Asia Pasifik.

Ada beberapa kategori yang dipertandingkan, salah satunya adalah Maze Solving, yang merupakan pertandingan individual (perorangan) .

Kategori Maze Solving memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi karena robot harus menyelesaikan bentuk lintasan yang kompleks dalam waktu 2 (dua) menit saja. Namun, animo peserta cukup tinggi. Ada 35 tim yang “mengadu nasib” dalam kategori pertandingan ini.

Waktu persiapan 90 menit, kemudian dilakukan kompetisi pertama. Selanjutnya, kepada peserta diberikan waktu 30 menit untuk melakukan perbaikan, dan dilakukan kompetisi kedua. Hasil kedua run di-rata-rata.

Berikut adalah hasil Maze Solving untuk kategori Challenge (kelompok umur 13-18 tahun):

  • Medali Emas : SMAN 28, Jakarta
  • Medali Perak : SMPK TRIMULIA, Bandung
  • Medali Perunggu : SMP Muhammadiyah, Denpasar

Untuk tim robotik SMPK TRIMULIA Bandung, yang merupakan tim binaan NEXT SYSTEM Robotics, ini merupakan raihan yang cukup baik, mengingat mereka adalah siswa “bercelana pendek” di tengah mayoritas “bercelana panjang”. Kedua, mereka bertanding tanpa didampingi pelatih; dan mungkin, satu-satunya tim partisipan SEARO 2009 yang tidak didampingi pelatih 🙂

Untuk Samuel Christian Tjahyadi, peraih medali perak yang baru berusia 14 tahun, pertandingan yang sarat dengan tekanan psikologis dan hadir tanpa didampingi pelatih, adalah tantangan yang tidak mudah.

Anak-anak pembelajar robotik memang harus diberi kepercayaan untuk mandiri, mengingat dalam banyak kompetisi robotik, termasuk SEARO 2009, pelatih masih mencoba dan berusaha keras untuk melakukan intervensi (membantu), karena “kasihan” melihat anak didiknya kesulitan. Langkah seperti ini akan merusak mental anak.

Kehidupan nyata begitu keras. Biarlah ajang seperti ini menjadi bagian dari pembentukan karakter. Toh, saat mereka besar, mereka harus mandiri dan lepas dari bayang-bayang “sang pelatih”.