«

»

Oct 06

Untuk anak, koq, coba-coba?

Mungkin kita cukup familiar dengan sebuah iklan yang berbunyi seperti subyek di atas.

Iklan yang mengangkat satu produk kayu putih tersebut ingin menyampaikan pesan bahwa untuk anak sendiri, haruslah diberikan yang terbaik. Jangan menggunakan produk yang kualitasnya tidak jelas atau meragukan. Pernyataan yang sangat bisa diterima akal sehat.

Bagaimana dengan konteks sekolah yang kita layani? Tentunya kita sepakat untuk memberikan yang terbaik.

Namun persoalannya, banyak praktek coba-coba yang terjadi di lapangan. Sebut saja dalam pemilihan guru. Tahun lalu saya mencatat, beberapa orang yang belum pernah menjadi guru, ditempatkan sebagai guru di kelas 7. Mungkin pertimbangan dari sekolah adalah, karena materi kelas 7 masih ringan, maka sah-sah saja diajar oleh guru pemula, siapa tahu cocok.

Satu yang saya tahu persis adalah mapel Fisika. Setelah satu tahun belajar, mayoritas siswa kelas 7, tidak paham Fisika. Sekarang, guru tsb. sudah tidak ada lagi. Saya sempat survey dgn responden beberapa anak kelas 8 (baru naik dari kelas 7), dan kesimpulannya, bekal Fisika mereka tidak memadai.

Pertanyaannya, koq sekolah berani coba-coba?

Bagi saya pribadi, semua level harus diperhatikan dengan baik, tidak boleh coba-coba. Kalau mau coba-coba, coba dulu di kelas ekstra (pelajaran tambahan), jangan sebagai guru kelas. Setelah di-asses dan hasilnya bagus, baru disarankan untuk menjadi guru kelas.

Kasus berikutnya, sama untuk bidang studi Fisika, tapi di SMA. Konon guru tsb. mengajar juga di satu sekolah swasta. Masih muda dan temperamental. Saya yakin, dia belum pernah mengikuti pelatihan menjadi guru, karena sering keluar kelas saat mengajar, hanya untuk ber-SMS. Dan ketika menghadapi siswa yang “berulah”, langsung diajak berkelahi satu lawan satu.

Sewaktu SMP, saya pernah memiliki guru Fisika seperti ini. Dia pun sempat menantang anak-anak berkelahi seperti itu. Anak-anak tidak ada yang berani, karena kebanyakan baru berusia 12-13 tahun, sementara dia badannya besar dan pelatih pencak silat 🙂

Tapi, guru Fisika SMA di atas agak nekad, karena dia badannya kecil, sementara anak-anak badannya jauh lebih besar. Mungkin dia sangat paham bagaimana mengaplikasikan teori Fisika, sehingga tidak takut dikeroyok sekalipun 🙂

Apapun alasannya, menantang anak berkelahi, bukan sikap yang baik. Bermain SMS saat mengajar saja, sudah tidak baik, apalagi mengajak berkelahi sambil mengeluarkan kata-kata “kebun binatang”.

Repotnya, beberapa guru seperti itu, kebanyakan, adalah teman dari pejabat di sekolah, sehingga proses pembinaan menjadi sedikit terkendala (sungkan).

Bila kondisi demikian terus terjadi, dicoba-coba terus, maka tidak mengherankan bila lulusan sekolah tidak memiliki bekal yang memadai untuk level berikutnya.

Saya pikir, perlu ada langkah yang segera dan bijaksana, sehingga bekal yang dimiliki siswa pada setiap levelnya, memadai. Tanpa langkah-langkah strategis seperti itu, waktu 3 tahun tidak sebanding dengan bekal yang didapatnya. Istilah dalam ekonomi, tidak cost effective.

Bagi saya, waktu sangat berharga. Ketika dalam satu masa pembelajaran, hasilnya tidak maksimal, itu merupakan kerugian yang sangat besar, terutama bagi siswa. Umur bertambah tapi bekal pengetahuan tidak bertambah.

Untuk anak, koq, coba-coba?