«

»

Oct 04

Sosok Guru dan Perubahan

guru-pelita-hidupSaya ingat persis ketika duduk di bangku kelas 2 SMP, ada guru baru untuk mapel Fisika. Kehadirannya sangat tidak nyaman, karena beliau menjelaskan materi demi materi dengan ragu-ragu. Beberapa pertanyaan siswa tidak bisa dijawabnya. Saya benar-benar kehilangan semangat belajar Fisika waktu itu.

Saat kelas 1 SMP, Fisika diajar oleh seorang Ibu guru yang ramah, penuh senyum, dan sangat paham bagaimana mengajar Fisika dan menjawab persoalan-persoalan Fisika. Kondisi yang sangat berbeda saat di kelas 2.

Saat pulang sekolah sore hari, waktu SMP saya sekolah siang, saya mencoba menguntit guru tersebut. Ternyata, dia masuk ke rumah yang tidak jauh dari rumah saya, di seberang jalan sekira 40 meter saja! Ternyata, orang dekat.

Kemudian saya tanya ortu, “Kenal, nggak, dengan toko jam di seberang itu?” Ternyata kenal. Singkat cerita, diketahui bahwa guru Fisika di atas lulusan dari IKIP jurusan sosial. Alamak! Pantas saja tidak bisa menjelaskan Fisika dengan baik, apalagi menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa.

Namun, guru yang satu ini memiliki semangat luar biasa. Dia berusaha keras untuk berubah. Ketika pulang sekolah lewat rumahnya, beberapa kali saya melihat dia tengah membaca buku Fisika SMP 🙂

Setelah 2 bulan berjalan, cara dia menjelaskan sudah lebih baik. Pertanyaan demi pertanyaan pun dapat dijawabnya dengan baik.

Saya pun ingat persis ketika berpredikat sebagai mahasiswa tahun pertama, diminta oleh seorang relasi ortu, untuk mengajari Fisika seorang guru SMP Negeri. Lulusannya sama dengan yang di atas, lulusan IKIP jurusan sosial. Namun, karena posisi yang kosong di sekolah tersebut adalah bidang Fisika, maka dia nekad untuk mengisinya.

Tiap hari minggu dia mampir ke rumah, dengan semangat luar biasa. Seorang mahasiswa tahun pertama mengajar sarjana. Ini proyek sosial alias tanpa bayaran, karena mandat dari ortu demikian 🙂 Alhasil, setelah beberapa kali pertemuan, beliau pun mendapat pencerahan dan menjadi seorang guru Fisika. Terakhir saya mendapat kabar, beliau sudah menjadi Camat di satu daerah. Entah kalau sekarang, karena informasi terakhir tersebut sudah cukup lama.

Dua buah kisah perjuangan yang luar biasa untuk mewujudkan cita-cita menjadi seorang yang patut digugu dan ditiru.

Sudahkah panggilan hati sebagai seorang guru sejati ada di hati setiap guru-guru kita?