«

»

Nov 24

Robot Indonesia mau dibawa ke mana?

Minggu, 24 November 2013 – Prestasi anak bangsa bisa dibilang membanggakan, khususnya di bidang robot. Robot buatan Indonesia banyak diakui dunia internasional. Lihat saja penghargaan yang diperoleh. Akan tetapi, akan ke mana arah dunia robot di Indonesia?

Pemimpin Tim Riset Robot Edukasi NS One, Christianto Tjahyadi, mengatakan, prestasi bidang robot Indonesia yang cemerlang belum diiringi pengembangan hingga bisa dimanfaatkan secara nyata, baik untuk aplikasi industri ataupun bidang lainnya.

Saat ini robot masih sekedar tren. Belajar robot hanya untuk mengikuti lomba. Sementara di beberapa negara, robot memiliki target tertentu, misalnya, di Amerika, robot untuk eksplorasi luar angkasa, militer, sumber minyak, bahkan menjalani misi tertentu.

Demikian dengan Eropa, robot diterapkan untuk transportasi, sedangkan di Asia yang dimotori Jepang dan Korea, robot mengarah untuk entertainment. “Nah, kalau robot di Indonesia orientasinya cuma untuk lomba. Ketika industri minta, akhirnya bingung, robot industri dan lomba itu jauh beda, bumi dan langit. Belum ada robot yang bisa diaplikasikan karena standarisasi inudstri itu jauh di atas. Kita harus ajak siswa dan mahasiswa untuk mikir lebih realistis. Bukan hanya untuk lomba yang dunianya terbatas,” kata Chris.

Sementara itu, banyak negara yang tidak sering ikut lomba, tetapi mampu membuat robot dalam bentuk nyata. Seperti Singapura dan China. Dua negara ini sesekali saja mengikuti lomba, akan tetapi langsung diterapkan pada tahun berikutnya, membuat skala sungguhan.

“Paradigmanya harus diperbaiki, wawasan dibuka, harus belajar riil. Menang lomba bukan lagi kegembiraan yang euforia, setelah itu harus mikir apa selanjutnya supaya mereka yang juara juga nggak sombong karena masih banyak yang harus dipelajari. Jangan pernah berhenti belajar. Orang tua juga harus punya paradigma yang benar, jangan paksa anak hanya untuk jadi juara. Karena juara itu bonus sebagai bentuk apresiasi,” pungkasnya. —

Robot Indonesia mau dibawa ke mana? — masita ulfah