«

»

Feb 19

Sekolah Robotik Terkendala Guru

Bila kita melihat perkembangan pembelajaran robotik di sekolah maupun learning center, populasi pembelajar robotik terbesar ada di tingkat TK/SD, sementara terkecil di tingkat SMA. Bentuk animonya seperti piramida. Jadi, tidaklah mengherankan bila perguruan tinggi kesulitan untuk mendapatkan bibit-bibit yang siap poles untuk tim robotik mereka.

Perkembangan ini disebabkan karena ketersediaan guru dan instruktur robotik.

Untuk tingkat TK/SD, praktek robotik diposisikan sebagai sarana bermain dan tidak ada materi teknis yang terlalu “serius”. Dengan demikian, kemampuan guru dan instruktur yang menangani kelas, cukup yang biasa-biasa saja. Yang penting bisa me-manage kelas dengan baik.

Untuk perangkat atau media pembelajaran pun ada banyak pilihan. Umumnya menggunakan produk impor yang cukup friendly, seperti Lego Mindstorms.

Mencari guru dan instruktur dengan kualifikasi demikian, mungkin tidak terlalu sulit.

 

Berbeda dengan tingkat SMP atau SMA. Konsentrasi mereka tidak lagi pada konteks bermain. Mereka perlu tantangan yang bisa mengalirkan emosi remaja yang umumnya meledak-ledak. ¬†Pada tingkatan ini, guru dan instruktur robotik perlu memiliki kompetensi lebih, agar bisa menjawab rasa ingin tahu mereka yang terkadang nyeleneh dan “memberontak”.

Remaja mungkin tidak terlalu suka dengan perangkat model Lego Mindstorms, karena terkesan untuk anak. Ada rasa gengsi bila menyentuh robot “mainan” seperti itu. ¬†Untuk itu, perlu disodorkan menu lain yang lebih menantang, seperti Robot Edukasi. Dengan perangkat seperti ini, mereka bisa ngoprek dan mengembangkan proyek-proyek yang menjadi mimpi mereka. Untuk itu, perlu pendampingan guru-guru yang memiliki kompetensi teknis dan mampu berpikir kreatif serta memecahkan masalah secara algoritmis.

Mencari guru dan instruktur robotik dengan kualifikasi demikian, tidak mudah.

Data yang dimiliki NEXT SYSTEM Robotics Learning Center, satu-satunya learning center yang menyelenggarakan program Robotic for Teachers, program khusus untuk guru dan trainer robotik; pun menguatkan simpulan di atas. Mayoritas peserta program ini adalah guru-guru SMP/SMA dan instruktur robotik untuk kelas remaja.

Jadi, tidaklah mengherankan bila program robotik hanya rame di tingkat anak TK/SD, tidak banyak di tingkat SMP dan relatif jarang di tingkat SMA.

Di arena kompetisi robotik pun demikian, baik tingkat nasional maupun internasional. Peserta terbanyak selalu dari kelompok usia 8-13 tahun atau sekolah dasar.