«

»

Apr 05

Robotik: Hardware, Software atau Brainware dulu?

Dalam sebuah diskusi, muncul sebuah pertanyaan, untuk memajukan robotik di negeri ini, apa yang harus dilakukan? Ini adalah pertanyaan yang sangat terbuka, mengingat robotik sangat luas. Saya mencoba membatasinya dalam konteks robotik sebagai pembelajaran, yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi mereka yang mempelajarinya.

Dalam konteks ini, robotik memerlukan tiga komponen utama: hardware, software dan brainware. Untuk hardware, ketersediaan hardware saat ini, baik produksi lokal – seperti Robot Edukasi, maupun impor – seperti Lego Mindstorms, sudah lebih dari cukup. Artinya, hardware yang dimaksud sudah menyediakan sejumlah fasilitas dimana pembelajar dapat mempelajari dasar-dasar robotik dan mengembangkan robot cerdas sederhana, secara memadai.

Di sisi software pun terdapat sejumlah pilihan. Pembelajar dapat memilih “menu” software yang tersedia, sesuai dengan selera. Namun harus hati-hati, mengingat bila salah pilih, maka harus mengulang, bahkan mengulang dari titik nol.

Beberapa software berbasis grafis sangat memudahkan bagi pemula. Sementara software berbasis pemrograman dengan bahasa tingkat tinggi – yang biasa digunakan di lingkungan komputer, bila dipahami dan dikuasai sejak dini, akan memberikan hasil yang baik.

Komponen ketiga yang merupakan komponen yang paling penting dan penentu sebuah kemajuan adalah brainware alias sumber daya manusia. Tanpa kemampuan brainware yang mumpuni, ketersediaan hardware dan software hanyalah sebuah pajangan. Brainware harus disiapkan dengan baik, sehingga memahami robotik secara holistik. Mereka belajar apa itu robotik, bukan mempelajari produk robot tertentu – karena mereka bukan disiapkan untuk menjadi marketing produk robot.

Untuk menghasilkan brainware yang berkualitas, maka diperlukan sebuah proses pembelajaran yang tepat guna dan tepat sasaran. Sebuah proses pembelajaran yang mengikuti arah perkembangan teknologi robotik itu sendiri – riding the wave. Misi pembelajaran tidak boleh diarahkan untuk menjadi sekedar bisa mengoperasikan robot alias operator robot, namun harus mampu melahirkan inovator dan inventor dalam bidang robotik. Pembelajaran dan pelatihan tidak cukup dengan hanya melahirkan juara kompetisi robotik, namun pembelajar harus mampu memahami esensi robotik yang sesungguhnya.

Bagi saya, juara kompetisi robotik hanyalah sebuah bonus dari sebuah proses pembelajaran, bukan target yang harus dikejar. Bila seseorang sudah memahami dan menguasai robotik yang sebenarnya, maka ganjaran positif, baik berupa penghargaan dari sebuah kompetisi maupun insentif dari dunia industri, adalah bonus!

Robotik adalah sebuah isu pembelajaran yang sangat luas dan memberikan dampak yang positif, sekali lagi, bagi mereka yang mempelajari secara benar, tepat guna dan tepat sasaran. Untuk itu, di dalam pengelolaan pembelajarannya, perlu berdasarkan disain yang baik, berdasarkan kebutuhan masa depan – mempelajari robotik hari ini untuk menjawab tantangan di masa depan.