«

»

Jul 12

Menjadi Kreatif dan Percaya Diri

BWLogoNewKursus robot menjadi alternatif pendidikan non kurikulum yang lebih aplikatif bagi siswa. Jika sekolah hanya mengajarkan matematika dan fisika di atas kertas, belajar robot membuat para siswa bisa melihat langsung bagaimana penerapannya secara nyata. Rumus integral dan diferensial yang dipelajari di SMA, misalnya, bisa diterapkan untuk memprogram robot agar dapat bergerak di atas garis secara mulus.

Christianto Tjahyadi, Managing Director Next System Robotic Learning Center di Bandung, melihat robotika sebagai kolaborator ilmu mulai dari matematika, fisika, komputer, bahkan sampai ke biologi dan psikologi. “Untuk biologi, misalnya, ketika siswa membuat robot ikan, ia mesti memahami bagaimana cara kerja sirip. Sementara itu, aspek psikologi tersentuh ketika sudah terkait dengan kerjasama tim,” ujar Christianto yang mengembangkan brand robotnya sendiri, yaitu Robot Edukasi.

Selain anak-anak, orang dewasa pun masih bisa menjadi target pasar kursus robot. Ternyata, menurut Christianto, banyak juga kalangan lain yang meminatinya, seperti guru, dosen, ibu rumah tangga, dan kaum profesional lainnya.

Para guru dan dosen yang mengajarkan ilmu-ilmu sains di sekolah dan universitas ternyata kerap membutuhkan belajar lebih jauh tentang robot. Apakah itu untuk mendapatkan pemahaman aplikatif dari rumus tertentu atau untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. “Biasanya, pengajar di Indonesia bisa menyajikan materi yang sangat rumit dalam pengajarannya, tapi tidak begitu paham bagaimana penerapan nyata dari rumus-rumus itu, ” kata Christianto.

Sementara itu, ibu rumah tangga kerap mempelajari robot agar bisa update terhadap perkembangan anaknya yang sedang belajar robot. Tujuannya agar ada hobi yang bisa dilakukan bersama anaknya dan komunikasi lebih lancar. Ada pula profesional yang sekedar ingin belajar saja tentang robot karena ketertarikan pribadi.

Sebetulnya, selain untuk hobi dan mengasah otak, robot juga bisa berguna bagi kehidupan sehari-hari jika kita sudah menguasai konsep dasarnya. Dengan meminjam prosesor robot, kita bisa memanfaatkannya, misalnya, untuk mengatur aliran air dari pipa atau mengatur nyala-matinya lampu secara otomatis.

“Robot itu kan benda yang netral saja. Sama seperti komputer, dulu orang juga tidak paham dan merasa asing. Tapi kemudian orang dari berbagai kalangan belajar menggunakannya baik dengan kursus maupun otodidak dan akhirnya bisa, ” ujar Christianto.

Ketika robot sudah diposisikan seperti komputer, saat itulah belajar robot akan dipandang sebagai suatu keharusan. Dan artinya, masyarakat kita sudah setingkat lebih tinggi dalam pemanfaatan teknologi.

Dikutip dari BusinessWeek Indonesia No.18 | 15 Juli 2009