«

»

Jan 07

Mikrokontroler dan Kolaborasi

Bila kita mencermati perkembangan aplikasi mikrokontroler, ada satu fenomena yang menarik, yakni isu kolaborasi.

Contoh pertama adalah ranah Physical Computing, yang meng-kolaborasi mikrokontroler dan PC. Dengan demikian, aplikasi PC dapat membaca sensor dan memberikan sinyal aktuasi pada robot lengan, misalnya. Mengapa perlu kolaborasi demikian? Karena CPU yang dimiliki mikrokontroler memiliki “IQ” yang jauh lebih rendah dibanding PC. Sekedar perbandingan saja, AVR 16 MHz memiliki “IQ” 16 MIPS, sementara Intel Atom versi lama -1.6GHz memiliki “IQ” 4000 MIPS. Untuk implementasinya, tidak perlu modifikasi di sisi hardware (PC), cukup memanfaatkan sebuah protokol generik seperti firmata.

Contoh kedua adalah IOIO (baca: Yo-Yo), yang meng-kolaborasi mikrokontroler dengan mobile device berbasis Android. Dengan demikian, kemampuan mumpuni yang dimiliki gadget Android -computing power, konektivitas internet, touch screen, kamera, dll. -dapat berinteraksi dengan rangkaian elektronik, termasuk sensor dan aktuator. Semuanya dapat dilakukan dengan hanya membuat “aplikasi sederhana” di sisi Android, dengan memanfaatkan Java API. Tidak perlu modifikasi di sisi hardware (Android device), dan tidak ada embedded programming. Dengan demikian, mengendalikan robot melalui gadget Android bukan lagi sebuah mimpi yang sulit untuk diwujudkan.

Selamat ber-eksperimen!