«

»

Jul 21

Hardware Becomes Software

Perkembangan teknologi melaju sedemikian cepat, guna menggenjot produktivitas. Fisik komputer semakin kecil, sementara kemampuannya meningkat luar biasa.

Beberapa tahun lalu, mereka yang senang ngoprek rangkaian elektronika, baik analog maupun digital, pasti pernah mengembangkan proyek dengan lebih dari selusin chip TTL dan OpAmp. Hari ini, kita sudah tidak melihatnya lagi. Algoritma yang sebelumnya di-implementasikan melalui rangkaian sejumlah chip, sekarang digantikan dengan algoritma berupa software yang ditanam di dalam chip mikrokontroler.

Mikrokontroler menjadi jantung dari revolusi elektronika. Sebuah revolusi yang menarik.

Mikrokontroler adalah sebuah komputer kecil single chip. Ia memiliki CPU, RAM dan penyimpan data permanen di dalam chip-nya. Ia juga memiliki counter dan untuk beberapa tipe mikrokontroler, terdapat ADC  Рanalog to digital converter di dalamnya. Ini membuatnya mungkin untuk menggantikan rangkaian analog dengan sebuah mikrokontroler dan software.

Sekedar contoh

Mungkin kita mengenal rangkaian astable multivibrator. Sebuah rangkaian analog yang dapat digunakan untuk membuat LED berkedip. Kita dapat menggantikannya dengan sebuah mikrokontroler. Mungkin untuk kasus ini, penggantian dengan mikrokontroler bukanlah sebuah big advantage. Namun, harap dicatat, dengan mikrokontroler, kita dapat melakukan pengembangan dengan lebih mudah. Sebut saja mengedipkan sejumlah LED dengan pola tertentu. Dengan rangkaian analog, tidak mudah untuk melakukan sinkronisasi antara satu LED dengan yang lainnya.

Berikut adalah sebuah contoh program LED berkedip dengan waktu tunda 500 milidetik, yang di-compile dengan WinAVR:

int main(void)
{
  DDRC |= (1<<DDC5);
  while (1) {
    PORTC &= ~(1<<PORTC5);
    delay_ms(500);
    PORTC |= (1<<PORTC5);
    delay_ms(500);
  }
  return(0);
}

** WinAVR menyediakan fungsi delay dengan nilai maksimum _delay_ms(262).